simbol kedudukan
guru dan murid
Salman al-Farisi dan Guru
Salman al-Farisi adalah sosok murid
yang akan kita bahas pada simbol kedudukan guru dan murid dalam versi supernova berikutnya. Mengapa Salman al-Farisi? Karena tokoh ini
sangat menarik kita angkat. Betapa tidak Salman merupakan sosok pencari
kebenaran yang sejati. Beliau bersedia berguru kepada siapa pun yang
diyakininya dapat membantu mencari kebenaran. Hingga pada suatu hari bertemu
dengan seorang pemuka Nasrani, yang dianggapnya memiki kemampuan itu. Salman
mengutarakan maksudnya dan Sang guru bersedia dengan ketentuan dan syarat yang
berlaku. Salman mesti bersedianya mengabdi kepadanya dalam segala hal, layaknya
khadim, pelayan atau pembantu.
Salman
menyetujui syarat-syarat yang diajukan pemuka Nasrani. Sebagai murid Salman
sangat taat kepada gurunya. Tidak pernah sekalipun menentang kehendak guru itu.
Walaupun gurunya tergolong guru yang tidak jujur. Tidak jarang ia menemui sang
guru berbohong. Acapkali ia menerima perlakuan yang tidak sesuai dengan nurani.
Namun Salman tetap mendedikasikan dirinya kepada sang guru. Dalam kurun waktu
yang relatif lama Salman mengabdikan diri dan hidupnya kepada guru. Sampai
suatu ketika sang guru mendekati ajal.
“Guru,
kemana lagi saya harus pergi, mencari guru yang dapat mengajarkan kebenaran?”
Salman bertanya kepada gurunya.
“Tidak
ada orang lain, jika yang kamu maksudnya di daerah ini.” jawab gurunya.
“Maksud
guru?”
“Kecuali
jika kamu pergi ke Mosul (sekarang Irak).” jawab gurunya.
Salman
al-Farisi akhirnya memutuskan pergi ke Irak. Tidak begitu sulit akhirnya
menemukan guru yang dimaksud. Dia pun tetap istiqomah dalam pengabdiannya
kepada guru. Melayani guru dalam kesehariannya. Beruntung kali ini dia bertemu
dengan guru yang tepat. Seorang jujur dan bijaksana. Salman merasakan kenikmatan
yang terhingga dan merasa patut bersyukur. Namun , kebersamaannya dengan guru keduanya
inipun tidak berlangsung lama. Dia harus menerima kenyataan dan harus berpisah
dengan gurunya karena ajal. Namun sebelum menghembuskan nafas terakhir gurunya
sempat berpesan kepadanya, bahwa ia harus mencari guru berikutnya ke negeri Syam.
Karena semua hal yang ia pelajari dan ajaran yang diterimanya selama ini
berasal dari Syam.
Maka
pergilah Salman ke Syam dengan segala rasa keingintahuannya yang besar. Sebesar
harapannya yang ia sandarkan kepada guru barunya. Akhirnya sampailah Salman ke
Ammuriah suatu daerah jajahan Romawi. Tempat yang disarankan oleh guru
terakhirnya. Namun di tempat ini Salman harus rela menjadi budak. Hal ini
terjadi karena saat diperjalanan Salman dikhianati oleh seseorang yang berjanji
mengantarkannya ke Mekah. Kondisi ini membuat arah perjalanannya berubah,
hingga akhirnya Salman malah berada di Madinah.
Salman
tidak menyadari bahwa guru yang dicarinya juga berada di Madinah. Tersiar kabar
bahwa di telah hijrah seorang yang jujur dari Mekah ke Madinah. Salman
mendengar kabar tersebut dari majikannya. Tanpa membuang waktu lagi ia langusng
mencari cara agar bisa bertemu dengan guru sejatinya, yang tidak lain adalah
Rasulullah SAW. Guru yang dapat menolongnya menemukan kebenaran yang hakiki.
Kebenaran yang selama ini ia cari.
Sahabat Supernova yang baik hatinya, demikian sekelumit kisah tentang seorang pembelajar
dalam menuntut ilmu. Semoga ini dapat memberi inspirasi kepada kita bagaimana
seharusnya seorang murid memposisikan dirinya dihadapan gurunya. Sekalipun
gurunya bukan seorang guru yang baik, jujur dan bijak. Bagaimana kegigihan
Salman menuntut ilmu. Berpindah dari satu guru ke guru berikutnya, dan
mengabdikan hidupnya kepada sang guru. Bahkan melanglang buana dari suatu
tempat ke tempat lainnya. Tak pernah sekalipun ia menolak perintah apalagi
membantahnya. Betul-betul seorang murid yang pandai menempatkan diri dan tahu
bagaimana cara berkhidmat kepada guru secara total.
Akhlak yang telah muncul sebelum
Salman memeluk agama Islam. Dan semakin sempurna ketika dia berkhidmat kepada
guru yang sejati. Guru yang memiliki akhlak yang sempurna. Akhlak semisal yang
kini sangat sulit ditemukan. Kegigihan individu dalam mentuntut ilmu telah
merosot. Kepatuhan kepada seorang guru yang mulai luntur. Ketabahan dan
keikhlasan dalam mengabdi kepada guru mulai terabaikan. Padahal semua itu
sumber keberkahan dalam menuntut ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar