Selasa, 18 November 2014

Salman al-Farisi dan Guru



simbol kedudukan
guru dan murid




Salman al-Farisi dan Guru


Salman al-Farisi adalah sosok murid yang akan kita bahas pada simbol kedudukan guru dan murid dalam versi supernova berikutnya.  Mengapa Salman al-Farisi? Karena tokoh ini sangat menarik kita angkat. Betapa tidak Salman merupakan sosok pencari kebenaran yang sejati. Beliau bersedia berguru kepada siapa pun yang diyakininya dapat membantu mencari kebenaran. Hingga pada suatu hari bertemu dengan seorang pemuka Nasrani, yang dianggapnya memiki kemampuan itu. Salman mengutarakan maksudnya dan Sang guru bersedia dengan ketentuan dan syarat yang berlaku. Salman mesti bersedianya mengabdi kepadanya dalam segala hal, layaknya khadim, pelayan atau pembantu.
          Salman menyetujui syarat-syarat yang diajukan pemuka Nasrani. Sebagai murid Salman sangat taat kepada gurunya. Tidak pernah sekalipun menentang kehendak guru itu. Walaupun gurunya tergolong guru yang tidak jujur. Tidak jarang ia menemui sang guru berbohong. Acapkali ia menerima perlakuan yang tidak sesuai dengan nurani. Namun Salman tetap mendedikasikan dirinya kepada sang guru. Dalam kurun waktu yang relatif lama Salman mengabdikan diri dan hidupnya kepada guru. Sampai suatu ketika sang guru mendekati ajal.
          “Guru, kemana lagi saya harus pergi, mencari guru yang dapat mengajarkan kebenaran?” Salman bertanya kepada gurunya.
          “Tidak ada orang lain, jika yang kamu maksudnya di daerah ini.” jawab gurunya.
          “Maksud guru?”
          “Kecuali jika kamu pergi ke Mosul (sekarang Irak).” jawab gurunya.
          Salman al-Farisi akhirnya memutuskan pergi ke Irak. Tidak begitu sulit akhirnya menemukan guru yang dimaksud. Dia pun tetap istiqomah dalam pengabdiannya kepada guru. Melayani guru dalam kesehariannya. Beruntung kali ini dia bertemu dengan guru yang tepat. Seorang jujur dan bijaksana. Salman merasakan kenikmatan yang terhingga dan merasa patut bersyukur. Namun , kebersamaannya dengan guru keduanya inipun tidak berlangsung lama. Dia harus menerima kenyataan dan harus berpisah dengan gurunya karena ajal. Namun sebelum menghembuskan nafas terakhir gurunya sempat berpesan kepadanya, bahwa ia harus mencari guru berikutnya ke negeri Syam. Karena semua hal yang ia pelajari dan ajaran yang diterimanya selama ini berasal dari Syam.
          Maka pergilah Salman ke Syam dengan segala rasa keingintahuannya yang besar. Sebesar harapannya yang ia sandarkan kepada guru barunya. Akhirnya sampailah Salman ke Ammuriah suatu daerah jajahan Romawi. Tempat yang disarankan oleh guru terakhirnya. Namun di tempat ini Salman harus rela menjadi budak. Hal ini terjadi karena saat diperjalanan Salman dikhianati oleh seseorang yang berjanji mengantarkannya ke Mekah. Kondisi ini membuat arah perjalanannya berubah, hingga akhirnya Salman malah berada di Madinah.
          Salman tidak menyadari bahwa guru yang dicarinya juga berada di Madinah. Tersiar kabar bahwa di telah hijrah seorang yang jujur dari Mekah ke Madinah. Salman mendengar kabar tersebut dari majikannya. Tanpa membuang waktu lagi ia langusng mencari cara agar bisa bertemu dengan guru sejatinya, yang tidak lain adalah Rasulullah SAW. Guru yang dapat menolongnya menemukan kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang selama ini ia cari.
          Sahabat  Supernova  yang baik hatinya, demikian sekelumit kisah tentang seorang pembelajar dalam menuntut ilmu. Semoga ini dapat memberi inspirasi kepada kita bagaimana seharusnya seorang murid memposisikan dirinya dihadapan gurunya. Sekalipun gurunya bukan seorang guru yang baik, jujur dan bijak. Bagaimana kegigihan Salman menuntut ilmu. Berpindah dari satu guru ke guru berikutnya, dan mengabdikan hidupnya kepada sang guru. Bahkan melanglang buana dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tak pernah sekalipun ia menolak perintah apalagi membantahnya. Betul-betul seorang murid yang pandai menempatkan diri dan tahu bagaimana cara berkhidmat kepada guru secara total.
          Akhlak yang telah muncul sebelum Salman memeluk agama Islam. Dan semakin sempurna ketika dia berkhidmat kepada guru yang sejati. Guru yang memiliki akhlak yang sempurna. Akhlak semisal yang kini sangat sulit ditemukan. Kegigihan individu dalam mentuntut ilmu telah merosot. Kepatuhan kepada seorang guru yang mulai luntur. Ketabahan dan keikhlasan dalam mengabdi kepada guru mulai terabaikan. Padahal semua itu sumber keberkahan dalam menuntut ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar